• Jelajahi

    Copyright © WARTA - KOTA DELTA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    DON'T MISS
    Loading...

    Latest Post

    Bupati Subandi: Kirab Ritual dan Budaya Kelenteng Teng Swie Bio Bukti Harmoni dan Toleransi dalam Keberagaman

    SJ MEDIA OFFICIAL
    2 Nov 2025, 16.48 WIB Last Updated 2025-11-02T09:48:46Z


    Sidoarjo — Suasana penuh semangat kebersamaan dan toleransi menyelimuti Kelenteng Teng Swie Bio, Kecamatan Krian, Minggu (2/11/2025). Ribuan warga dari berbagai kalangan tumpah ruah memenuhi jalanan untuk menyaksikan Kirab Ritual dan Budaya dalam rangka perayaan Shen Dien Y.M. Kongco Kong Tek Cun Ong, yang menjadi salah satu agenda budaya terbesar masyarakat Tionghoa di wilayah barat Kabupaten Sidoarjo.


    Kegiatan ini berlangsung meriah dan khidmat. Kirab budaya yang menempuh jarak sekitar 4 kilometer ini menampilkan beragam kesenian tradisional seperti barongsai, liong, gamelan, hingga tarian lintas budaya Nusantara. Tidak hanya diikuti oleh umat Tri Dharma atau masyarakat Tionghoa, namun juga melibatkan berbagai komunitas lintas agama dan lintas budaya. Mereka berjalan bersama dengan semangat persaudaraan dan saling menghormati, menggambarkan wajah Sidoarjo yang penuh harmoni.

    Di tengah hiruk pikuk tabuhan genderang barongsai dan semerbak aroma dupa yang memenuhi udara, Bupati Sidoarjo H. Subandi, S.H., M.Kn. turut hadir menyaksikan dan memberi sambutan. Kehadirannya menjadi simbol dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya serta penguatan toleransi antar umat beragama di Kabupaten Sidoarjo.


    Dalam sambutannya, Bupati Subandi menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi kepada pengurus Kelenteng Teng Swie Bio, para tokoh masyarakat, serta seluruh peserta kirab yang telah berpartisipasi dan menjaga tradisi dengan penuh semangat.


    “Acara ini bukan hanya bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual, tetapi juga wujud nyata pelestarian budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kekayaan tradisi di Kabupaten Sidoarjo,” ujar Bupati Subandi.


    Menurutnya, budaya Tionghoa sudah sejak lama menjadi bagian dari sejarah sosial Sidoarjo. Hubungan harmonis antara etnis Tionghoa dan masyarakat setempat terjalin erat melalui interaksi sosial, kegiatan ekonomi, serta kegiatan keagamaan dan budaya. “Inilah bukti bahwa Sidoarjo adalah rumah besar bagi semua. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan yang membatasi. Semua hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati,” tambahnya.


    Bupati Subandi juga menilai kegiatan seperti kirab ini memiliki nilai sosial dan spiritual yang sangat tinggi. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kirab juga mempererat hubungan antarwarga dari berbagai latar belakang. “Kirab budaya ini adalah simbol harmoni, toleransi, dan persaudaraan yang kuat di tengah keberagaman masyarakat. Dari sini kita belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, tapi justru kekuatan yang mempersatukan,” tegasnya

    Bupati Subandi menekankan bahwa semangat guyub rukun merupakan pondasi kehidupan masyarakat Sidoarjo yang harus terus dijaga. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan kegiatan budaya sebagai ruang kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan.


    “Dari acara seperti ini, kita melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan tanpa memandang agama, suku, atau budaya. Semua bergembira bersama. Inilah Sidoarjo yang kita banggakan — Sidoarjo yang damai, toleran, dan penuh kasih,” ucapnya.


    Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan lintas budaya dan keagamaan di seluruh wilayah. Bagi Subandi, toleransi bukan sekadar slogan, tetapi sebuah praktik hidup yang harus ditanamkan dalam setiap aktivitas sosial masyarakat.


    “Jangan pernah berhenti untuk saling menghormati dan mendukung satu sama lain. Kalau kita bersatu, maka Sidoarjo akan semakin maju dan sejahtera. Perbedaan itu indah, jika kita menyikapinya dengan hati terbuka,” ujarnya di hadapan peserta kirab dan tamu undangan.




    Dalam kesempatan itu, Bupati Subandi juga mengingatkan pentingnya pelestarian budaya sebagai tanggung jawab bersama. Ia menilai, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi masa depan.


    “Melestarikan budaya bukan hanya tugas komunitas tertentu, tapi tanggung jawab kita semua. Dari budaya, kita belajar tentang nilai, sejarah, dan jati diri. Dari perjalanan ini, kita membangun masa depan yang lebih kuat dan bersatu,” katanya.


    Subandi berharap, kegiatan Kirab Ritual dan Budaya Kelenteng Teng Swie Bio ini dapat menjadi agenda tahunan di Kabupaten Sidoarjo. Selain mempererat tali silaturahmi antarumat beragama, kegiatan seperti ini juga dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan Sidoarjo sebagai daerah yang kaya tradisi dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.


    “Event seperti ini punya potensi besar untuk dikembangkan. Tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tapi juga sebagai kegiatan pariwisata budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” tambahnya.


    Dalam akhir sambutannya, Bupati Subandi berpesan khusus kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya bangsa. Ia menilai bahwa pemuda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai tradisi yang ada.


    “Anak muda Sidoarjo harus bangga dengan keberagaman budaya yang kita miliki. Jangan malu untuk belajar tentang tradisi, karena dari situlah kita bisa memahami siapa diri kita sebenarnya,” ujar Subandi.


    Ia menegaskan bahwa keberagaman budaya adalah kekayaan yang tidak ternilai. “Kalau kita ingin maju, maka kita harus bersatu. Dan salah satu cara menjaga persatuan adalah dengan menghargai dan melestarikan budaya yang ada di sekitar kita,” katanya.


    Bupati juga berharap agar acara kirab budaya seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan kegiatan lintas budaya yang menjunjung nilai toleransi dan kebersamaan.




    Selama kirab berlangsung, masyarakat tampak antusias menyambut arak-arakan. Warga berdiri di tepi jalan, mengabadikan momen menggunakan ponsel. Anak-anak tampak bersemangat menyaksikan barongsai yang menari lincah diiringi dentuman genderang.


    Berbagai kesenian tradisional tampil silih berganti, mulai dari musik gamelan, barongsai, reog, hingga parade pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Kombinasi budaya Tionghoa dan Nusantara menciptakan suasana yang indah dan sarat makna — sebuah potret miniatur Indonesia yang hidup dalam bingkai Sidoarjo.


    Tidak hanya menjadi ajang spiritual, kegiatan ini juga menjadi momentum kebersamaan lintas komunitas. Para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pejabat daerah terlihat larut dalam suasana penuh keakraban.




    Kirab Ritual dan Budaya di Kelenteng Teng Swie Bio menjadi bukti nyata bahwa perbedaan justru memperkaya kehidupan masyarakat Sidoarjo. Kegiatan ini menegaskan bahwa harmoni sosial bukanlah hal yang mustahil, selama masyarakat memiliki semangat saling menghormati dan bekerja sama.


    Dengan semangat yang sama, Bupati Subandi menutup sambutannya dengan pesan singkat yang menggugah:


    “Keberagaman bukan alasan untuk berjarak, tetapi alasan untuk lebih dekat. Sidoarjo adalah rumah kita bersama — tempat di mana perbedaan dirayakan dalam damai dan kebersamaan.” (ADV/JH)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini, baru

    "); ?&max-results=10'>+
    ?orderby=published&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");