• Jelajahi

    Copyright © WARTA - KOTA DELTA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Create a vertical poster design with a formal, modern, and patriotic Indonesian theme for a “Peaceful Village Head Election”. Use dominant red, white, and light blue colors with traditional Indonesian batik ornaments on the left and right borders. Add decorative elements such as red-and-white ribbons, small stars, confetti, and festive accents while maintaining an official government-style appearance. At the top of the poster, place organization logos and the text: “PAGUYUBAN KEPALA DESA INDONESIA (PKDI) KECAMATAN BALONGBENDO BERSAMA FORKOPIMKA BALONGBENDO, KABUPATEN SIDOARJO” Add a bold large 3D-style headline in the center: “SIAP MENSUKSESKAN PEMILIHAN KEPALA DESA DAMAI (PILKADES DAMAI)” In the middle section, show a realistic group photo of 7 officials and community leaders standing in front of a government building, posing with their right hands on their chest. The group should include village heads, police officers, military personnel, and village officials. Use natural lighting and a formal documentary-style composition. At the bottom, add a ribbon/banner with the text: “UNTUK BALONGBENDO YANG AMAN DAN MAJU” Design style: clean and professional Indonesian government organization poster combination of flat illustration and realistic photography symmetrical layout high quality Instagram-friendly sharp details vertical 4:5 ratio.

    Latest Post

    BNNK Rilis Data Prevalensi Narkoba, Bupati Sidoarjo Minta Langkah Penanganan Lebih Terarah

    SJ MEDIA OFFICIAL
    27 Nov 2025, 09.02 WIB Last Updated 2025-11-27T02:02:04Z


    Sidoarjo – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menegaskan komitmennya dalam memperkuat upaya pemberantasan narkoba melalui kebijakan berbasis data. Hal ini disampaikan Bupati Sidoarjo, H. Subandi, saat menghadiri Diseminasi Hasil Survei Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba di Ruang Media Center BNNK Sidoarjo, Rabu (26/11/2025).


    Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BNNK Sidoarjo Kombes Pol. Gatot Soegeng Soesanto, S.H., Kepala BPS Sidoarjo Mohammad Ismail, Kepala Bakesbangpol Sidoarjo Fredik Suharto, Wakil Ketua DPRD Sidoarjo Warih Andono, perwakilan Kodim 0816, Polresta Sidoarjo, Kejaksaan Negeri Sidoarjo, UMSIDA, serta unsur media.


    Dalam sambutannya, Subandi menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan survei prevalensi narkoba pertama di Kabupaten Sidoarjo. Ia menyoroti bahwa persoalan narkoba tidak lagi sebatas isu kesehatan, tetapi terkait erat dengan keamanan lingkungan, kualitas generasi muda, dan ketahanan sosial masyarakat. Dengan posisi Sidoarjo sebagai daerah strategis dan padat mobilitas—berbatasan langsung dengan Surabaya, memiliki bandara, terminal, kawasan industri, serta lebih dari 7.000 perusahaan—tantangan peredarannya semakin kompleks.


    “Kepadatan dan mobilitas tinggi memberi tantangan tersendiri. Karena itu, data survei ini sangat penting sebagai dasar kebijakan yang tepat sasaran,” ujar Subandi. Ia menegaskan bahwa dukungan anggaran dan program harus mengacu pada data yang akurat untuk memetakan kerawanan wilayah dan kelompok rentan secara presisi.


    Subandi juga menekankan bahwa upaya pemulihan pecandu tidak bisa dibebankan hanya kepada BNN. Ia mendorong kolaborasi lebih erat antara Pemkab Sidoarjo, puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan lainnya guna memperluas layanan rehabilitasi yang mudah dijangkau masyarakat.


    Di sisi lain, Subandi menyoroti maraknya kasus perceraian di Jawa Timur—di mana Sidoarjo berada di peringkat ketiga—yang sebagian besar dipicu penyalahgunaan narkoba di kalangan usia muda, bahkan telah merambah pelajar SMP dan SMK. Data hasil survei menjadi pijakan penting untuk merancang kebijakan penanganan yang lebih komprehensif pada tahun mendatang.


    Sementara itu, Kepala BNNK Sidoarjo Kombes Pol. Gatot Soegeng Soesanto mengungkapkan bahwa Kabupaten Sidoarjo kini memiliki indeks prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 0,133 persen, atau setara dengan 133 penyalahguna per 100.000 penduduk. Berdasarkan temuan tersebut, wilayah yang berbatasan langsung dengan Surabaya tercatat sebagai kawasan paling rawan. Selain itu, 50 persen penyalahguna belum pernah mengakses layanan rehabilitasi, sehingga perluasan akses dan sosialisasi menjadi fokus intervensi ke depan.


    Menutup acara, Subandi menegaskan bahwa komitmen pemerintah tidak diukur dari besar kecilnya anggaran, tetapi dari penurunan angka penyalahgunaan narkoba setiap tahun. Ia berharap survei perdana ini menjadi langkah awal dalam mewujudkan Sidoarjo BERSINAR (Bersih dari Narkoba) serta memastikan generasi muda terlindungi dari ancaman narkotika.jh

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini, baru

    MEMO CYBER TV

    "); ?&max-results=10'>+
    ?orderby=published&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");