![]() |
| BEM Pesantren Seluruh Indonesia memberikan ultimatum kepada anggota DPR |
JAKARTA - BEM Pesantren Seluruh Indonesia memberikan ultimatum kepada anggota DPR RI, Aboe Bakar Al Habsyi, untuk segera menyampaikan permintaan maaf kepada kiai dan ulama Madura dalam waktu 2x24 jam. Jika tidak diindahkan, mereka memastikan akan menempuh jalur hukum.
Koordinator Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia, Ahmad Tomy Wijaya, menegaskan bahwa langkah ultimatum tersebut merupakan bentuk keseriusan sikap atas pernyataan yang dinilai merendahkan marwah kiai Madura.
Menurutnya, polemik ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kehormatan ulama yang selama ini memiliki peran strategis dalam menjaga nilai moral, keislaman, serta persatuan bangsa.
“Kami memberi waktu 2x24 jam untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Jika tidak, kami akan membawa persoalan ini ke ranah hukum,” tegasnya, Rabu (15/4/2026).
Selain ultimatum, BEM Pesantren juga mulai mengkonsolidasikan jaringan santri di berbagai daerah sebagai langkah respons kolektif. Mereka menilai, sebagai pejabat publik, anggota DPR seharusnya menjaga etika dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik.
Ahmad Tomy menambahkan, langkah hukum yang akan ditempuh bukan sekadar reaksi, melainkan upaya edukasi agar tidak terjadi lagi pernyataan serupa yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat tetap memiliki batas, apalagi jika menyangkut kehormatan tokoh agama,” ujarnya.
BEM Pesantren Se-Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu ini hingga tuntas, sekaligus menjaga kehormatan ulama sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Al Habsyi, menyampaikan permohonan maaf setelah pernyataannya yang mengaitkan ulama dan pesantren di Madura dengan aktivitas narkotika menuai polemik.
Permintaan maaf itu disampaikan usai dirinya menjalani pemeriksaan di Mahkamah Kehormatan Dewan DPR pada Selasa (14/4/2026). Dalam momen tersebut, Aboe tampak emosional hingga menangis saat menyampaikan penyesalannya.
Ia mengakui kekeliruannya karena telah membuat pernyataan yang bersifat generalisasi terhadap ulama di Madura. Menurutnya, tidak ada niat sedikit pun untuk merendahkan atau menghina pihak mana pun.


